MENDUNG DI AL QUDS
Ketika saya melihat mendung awan yang sedang berarak, ketika di tangan saya ada naskah berita derita saudara seagama di Palestin yang diasak dan ditindas dengan segala kecurangan Yahudi-zionis, ketika itu saya pilu. Tak berupaya melakukan apa-apa. Diam memerhati awan yang berlalu, barangkali disana awannya sama tapi cerita berbeza. Airmata ini menitis bersama gerimis.
Guruh berdentum di langit, barangkali bukan sekadar guruh yang berbunyi di sana, barangkali ada dentuman dan ledakan bom yang mengirigi. Aku diam dijendela. memerhati dan cuba merasai, denyut nadi saudaraku di sana.
Tidak semena-mena bibirku bergetar dengan kalimah doa. Ku hantar doa itu bersama angin lalu. Berhembus ia pergi. Ku sisip doa untuk Al Quds moga ia tetap dipelihara. Semalam aku sudah menangisi nabi. Hari ini aku menangis lagi. Mengenang umat Muhammad diulit derita yang tak henti-henti. Saudaraku sedang mempertaruhkan nyawa mempertahankan masjidil Aqsa dari dicerobohi. Aku kembali mendongak langit, suram dan bungkam. Guruh berbunyi di kaki langit. Ketika itulah aku nukilkan bait-bait ini;
Angin yang menyapa
membawa seribu makna.
Makna kedamaian yang sudah hilang.
Di balik awan ada mendung
yang berselindung.
Barangkali ada berita duka di hujung dunia
yang kita tidak tahu.
Ada derita yang tersisa.
Ada berita yang tidak tertulis,
hanya terlakar di awan gemawan.
Kita di sini disapa lagi
dengan gerimis hujan.
Basah dan suram.
Barangkali ada tangisan di hujung sana
menangisi perginya duka nestapa.
Siapa yang tahu
jika kematian itu berlaku
di balik rimbunan keriuhan
Hari duka penuh cerita
yang tidak dapat dikhabarkan semua.
Ia senyap dan lenyap di balik mendung awan.
Kilatan cahaya memangkah awan
diikuti guruh membelah langit.
Barangkali ada cahaya kuning
yang membakar tubuh gebu si anak kecil
barangkali ada bunyi yang mendebarkan jantung
datuk tua yang tak berupaya.
Siapa tahu kerana aku di sini engkau disana
dua peristiwa satu masa
satu bumi dua benua.
Ada luka merah berdarah
di bumi gersang ang bertuah.
Kering dan tersejat darah itu
tanpa dipeduli
oleh burung-burung Ereng yang kehausan.
Bau hamis yang tidak berahi
Untuk dijamah lagi
Sudah puluhan tahun
Nasibmu tertulis
bersama tinta merah berdarah
aku pasrah di sini
menanti satu tanda
menanti putih salju di al Quds
dinukil dengan airmata oleh Muhammad Nurani Maarif [ setelah membaca Harian Sinar kezaliman Yahudi-zionis di Palestin 3 Mac 2010]














